1Hadis+at+taubah+ayat+105 2 dalil+kitab+injil 3 dalil+kitab+zabur 4 surat at taubah ayat 105 5 hadist+al-hujurat+ayat+12 6 Zabur 7 Hadis+riwayat+muslim:1635 8 ibrahim 7 9 Al Isra ayat 26-27 10 injil 11 ali imran 12 dalil+kitab+Al quran 13 dalil+kitab+taurat 14 Al baqarah ayat 208 209 15 Ali imran 159 16 Surat+al ikhlas 17 Nomor surat 18 YUNUS Whateveris in the heavens and whatever is on the earth is exalting Allah . To Him belongs dominion, and to Him belongs [all] praise, and He is over all things competent. 64:2. to top. Sahih International. It is He who created you, and among you is the disbeliever, and among you is the believer. And Allah , of what you do, is Seeing. 64:3. to top. 64Surah At-Taghabun - (Mutual Loss and Gain) Album :Tafsir Ibne Kaseer -Urdu AudioArtist Name: Quran Tafsir. Skip to main content. Due to a planned power outage on Friday, 1/14, between 8am-1pm PST, some services may be impacted. Quran Urdu Audio 64.Surah At-Taghabun Tafsir Ibn kaseer TafsirSurat At-Taghabun, ayat 5-6 Makkiyah, 19 ayat turun sesudah Surat At-Takwir Surat Al-A'la ini adalah surat Makkiyyah, dalil yang menunjukkan kepada hal ini ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdan, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Syu'bah, dari Abu Ishaq, dari Al Suratini terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah dan diturunkan sesudah surat At Tahrim. 64. QS. At-Taghabun (Hari Dinampakkan Kesalahan) Madaniyyah - 18 Ayat. 15. Tafsir. Allah menerangkan bahwa cinta terhadap harta dan anak adalah cobaan. Jika tidak berhati-hati, akan mendatangkan bencana. Tidak sedikit orang Diamengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (At-Taghabun: 4) 64. At-Taghabun Juz 28 Makkiyah Surat At-Taghabun Tafsir At-Taghabun. Get link. . يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ ۖ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ وَلَهُ ٱلۡحَمۡدُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ ۖ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ وَلَهُ ٱلۡحَمۡدُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ ٱلسَّمَٰوَٰتِ langitjamak ٱلسَّمَٰوَٰتِ langitjamak Terjemahan Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Milik-Nyalah segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tafsir At-Taghaabun Penyesalan Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi artinya, semuanya memahasucikan Dia. Huruf lam pada lafal lillaahi adalah zaidah. Dan dalam ungkapan ayat ini dipakai huruf maa, hal ini tiada lain karena memprioritaskan yang mayoritas hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Topik Which was revealed in Al-Madinah or Makkahبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Allah and mentioning His Creation and KnowledgeThis is the last Surah among Al-Musabbihat. We mentioned before that all creatures praise the glory of Allah, their Creator and Owner. Allah the Exalted said,لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُHis is the dominion, and to Him belongs the praise, meaning, He is the One Who has control over all creation, the One praised for all He created and decreed. Allah's statement,وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌand He is Able to do all things. means that whatever He wills occurs without resistance, and whatever He does not will, never occurs. Allah said,هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُمْ مُّؤْمِنٌHe it is Who created you, then some of you are disbelievers and some of you are believers. meaning, Allah created you with these characteristics and He willed that for you. Therefore, there will be believers and disbelievers. Surely, Allah is the One Who sees those who deserve guidance and those who deserve misguidance. He is the Witness over His servant's deeds and He will completely recompense them. This is why Allah the Exalted said,وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌAnd Allah is All-Seer of what you do. Allah said,خَلَقَ السَّمَـوَتِ وَالأَرْضَ بِالْحقِّHe has created the heavens and the earth with truth, with equity and wisdom,وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْand He shaped you and made good your shapes. He made you in the best shapes and forms. Allah the Exalted said,يأَيُّهَا الإِنسَـنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ - الَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ - فِى أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ O man! What has made you careless about your Lord, the most Generous Who created you, fashioned you perfectly and gave you due proportion; in whatever form He willed, He put you together. 826-8 And His saying,اللَّهُ الَّذِى جَعَـلَ لَكُـمُ الاٌّرْضَ قَـرَاراً وَالسَّمَآءَ بِنَـآءً وَصَوَّرَكُـمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُـمْ وَرَزَقَكُـمْ مِّنَ الطَّيِّبَـتِAllah, it is He Who has made for you the earth as a dwelling place and the sky as a canopy, and has given you shape and made your shapes good looking and has provided you with good things. 4064 and His saying;وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُAnd to Him is the return. means the return and final destination. Allah then informs of His knowledge of all that there is in the heavens, in the earth and in the souls, He saidيَعْلَمُ مَا فِى السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمُ بِذَاتِ الصُّدُورِ He knows what is in the heavens and on earth, and He knows what you conceal and what you reveal. And Allah is the All-Knower of what is in the breasts. 14. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ yā ayyuhallażīna āmanū inna min azwājikum wa aulādikum aduwwal lakum faḥżarụhum, wa in ta’fụ wa taṣfaḥụ wa tagfirụ fa innallāha gafụrur raḥīm 14. Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tafsir Dalam ayat Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kita bahwa ada di antara keluarga kita di antaranya istri-istri dan anak-anak kita yang bisa menghalangi kita dari beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menghalangi kita dari menjalani ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.” Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa ada diantara istri-istri dan anak-anak kita ada yang menjadi musuh bagi kita, dan musuh adalah seseorang yang menginginkan untuk menimpakan keburukan kepada yang lainnya, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan disini sebagian مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ “dari sebagian istri-istri kalian dan anak-anak kalian” jadi tidak semua istri-istri dan anak-anak itu buruk, karena ada diantara mereka yang baik. Termasuk contoh istri yang baik adalah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sabdakan, dari Tsauban, ia berkata لَمَّا نَزَلَ فِي الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ مَا نَزَلَ قَالُوا فَأَيَّ الْمَالِ نَتَّخِذُ؟ قَالَ عُمَرُ أَنَا أَعْلَمُ ذَلِكَ لَكُمْ. قَالَ فَأَوْضَعَ عَلَى بَعِيرٍ فَأَدْرَكَهُ، وَأَنَا فِي أَثَرِهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَّ الْمَالِ نَتَّخِذُ؟ قَالَ ” لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً تُعِينُهُ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ “ “Tatkala turun ayat yang berkaitan dengan masalah perak dan emas, para sahabat bertanya, “Lantas harta apa yang kita ambil?” Umar berkata “Aku akan memberitahukan kepada kalian masalah itu.” Umar lantas naik ke atas untanya dan menemui beliau shallallahu alaihi wasallam, sementara aku mengikuti di belakangnya. Umar bertanya; “wahai Rasulullah, harta apa yang boleh kita ambil?” Beliau menjawab “Hendaknya salah seorang dari kalian menjadikan hatinya sebagai hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan istri yang menolongnya dalam urusan akhiratnya.” [1] Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu bentuk kenikmatan adalah ketika memiliki istri yang senantiasa mengingatkan suaminya tentang perkara akhirat, sering memotivasi dia untuk senantiasa berinfak, mengingatkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, membangunkan dia untuk shalat subuh, dan membangunkan dia untuk shalat malam. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala juga mengingatkan bahwa diantara istri-istri terdapat musuh bagi suaminya yang selalu membuat masalah, yang menghalangi suaminya dari berbuat kebaikan, ketika ingin berbuat baik kepada orang tua dihalang-halangi, ingin berbuat baik terhadap kerabat dihalang-halangi, dia yang mengajarkan suaminya menjadi pelit, mengajarkan suaminya untuk terus memikirkan dunia, bahkan mengajarkan suaminya untuk berhutang demi memiliki perhiasan dunia, dan yang lainnya. Istri seperti ini dialah musuh bagi suaminya yang menginginkan keburukan kepada suaminya. Demikian juga anak-anak sebagaimana yang diriwayatkan dari Ya’la al-Amiri, جَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ يَسْعَيَانِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضَمَّهُمَا إِلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ» “datang Al-Hasan dan Al-Husain berjalan menuju Nabi shallallahu alaihi wa sallam maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam merangkul meraka berdua dan bersabda sesungguhnya anak membuat orang menjadi pelit dan penakut.” [2] Dalam hadits ini disebutkan bahwa anak menjadi sebab seseorang menjadi pelit dan penakut, ketika dia mau berinfak lalu dia memikirkan anak-anaknya akhirnya membuatnya tidak jadi berinfak, dan ketika dia ingin berjihad lalu dia memikirkan anak-anaknya lalu berpikir jika dia meninggal maka siapa yang akan mengurus anak-anaknya? Akhirnya membuatnya tidak jadi berjihad. Bahkan anak-anak bisa membuat seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan ketika anaknya banyak keinginan, ingin ini dan ingin itu lalu dia menuruti semua keinginan anaknya akhirnya dia terjerumus ke dalam kemaksiatan, contohnya ketika anaknya ingin menonton di bioskop, demi menyenangkan anaknya dia mengikutinya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan untuk berhati-hati فَاحْذَرُوهُمْ “maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka”, karena sebagian orang mengatakan bahwa ini seperti musuh dalam selimut yaitu musuh yang tidak disadari, rasa cinta terhadap istri dan anak-anak dengan rasa cinta yang berlebihan sehingga membuatnya tidak bisa menimbang dengan timbangan syar’i, akhirnya dia menuruti semua keinginan istri-istri dan anak-anaknya dan dia terjerumus ke dalam kemaksiatan tanpa dia sadari. Seperti yang dijelaskan oleh penulis bahwa sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ} قَالَ هَؤُلَاءِ رِجَالٌ أَسْلَمُوا مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَرَادُوا أَنْ يَأْتُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَبَى أَزْوَاجُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ أَنْ يَدَعُوهُمْ أَنْ يَأْتُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَوْا النَّاسَ قَدْ فَقُهُوا فِي الدِّينِ هَمُّوا أَنْ يُعَاقِبُوهُمْ»، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ} [التغابن 14] الآيَةَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ “ Ibnu Abbas ditanya oleh seorang laki-laki mengenai ayat ini {Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka} QS. Attaghabun 14, beliau menjawab mereka adalah para lelaki penduduk Makkah yang telah masuk Islam, dan ingin menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam , namun istri-istri dan anak-anak mereka enggan jika mereka ditinggalkan untuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Ketika mereka mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa salam , mereka melihat orang-orang yang telah datang lebih dahulu sungguh telah memahami agama, sehingga mereka berniat ingin menghukum istri-istri dan anak-anak mereka, maka turunlah ayat ini {Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka} QS. Attaghabun 14.”[3] Dan ini bukan hanya untuk para istri saja, namun para suami juga bisa menjadi musuh bagi para istri jika mereka menghalangi istri-istri mereka dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. [4] Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala, وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “dan jika kalian maafkan dan kalian santuni serta ampuni mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ini merupakan arahan ilahi yang indah, karena dalam ayat ini menjelaskan bahwa meskipun di antara istri-istri dan anak-anak ada yang merupakan musuh dan kita diperintahkan untuk waspada dan hati-hati, namun bukan berarti lantas kita menjadi pelit dan marah terhadap istri dan anak-anak, karena bagaimanapun mereka adalah istri-istri dan anak-anak kita. Allah subhanahu wa ta’ala memberi arahan dan bimbingan dengan firman-Nya وَإِنْ تَعْفُوا “dan jika kalian maafkan”, وَتَصْفَحُوا “dan kalian berlapang dada” yaitu melapangkan dada tanpa perlu mencela namun cukup dinasihati, karena ketika mereka salah maka hakikatnya sang suami juga salah karena terlalu mengikuti kemauan mereka, وَتَغْفِرُوا “kalian menutupi” yaitu menutupi kesalahan mereka[5], tidak perlu bercerita kepada orang lain sebab dia tidak bisa melalukan ketaatan karena disebabkan istri-istri dan anak-anaknya, karena kesalahan mereka bukanlah untuk diceritakan kepada orang lain, maka disini Allah subhanahu wa ta’ala memberikan solusi وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi kesalahan mereka”. Mengapa suami dilarang untuk memarahi istri-istri dan anak-anaknya yang telah membuatnya lalai dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala?, hal ini dikarenakan bagaimanapun juga mereka adalah istri-istri dan anak-anaknya, dan bukanlah orang lain, yang mana mereka adalah kecintaannya, yang memiliki jasa baik lainnya, memberikan kebahagiaan kepadanya. Karenanya dilarang untuk mencela dan memarahi mereka atau menghukum mereka. Uslub/metode ini disebut dalam istilah tafsir dengan الاِحْتِرَاس, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala mendatangkan suatu pernyataan untuk menepis prasangka yang keliru yang mungkin muncul terhadap pernyataan yang sebelumnya. Dalam hal ini ketika Allah berfirman إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ “Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka”, maka ketika ada seseorang yang membaca ayat ini kawatir ia salah paham, dan menyangka harus menghukum anak dan istrinya yang menyebabkannya lalai. Maka untuk menepis kemungkinan persangkaan ini maka Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan setelahnya وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi kesalahan mereka”. Ini menunjukkan untuk kita tetap harus sayang kepada istri-istri dan anak-anak kita meskipun dalam kondisi mereka jelas-jelas salah, entah karena menjerumuskan kita sehingga menjadi pelit, atau menghalangi kita dari menuntut ilmu, atau menyebabkan kita kurang berbakti kepada orang tua, dan lain-lain, namun kita tetap dilarang untuk memarahi mereka, mencela mereka, dan mengumbar aib mereka. Apalagi jika kesalahan mereka hanya berupa kesalahan yang ringan maka lebih dilarang lagi bagi kita untuk memarahi mereka, mencela mereka, dan mengumbar aib mereka. Dan jika seorang suami sudah melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan yaitu وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi kesalahan mereka” maka balasannya adalah فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Maksudnya adalah اَلْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ “balasan sesuai dengan amal”, sebagaimana kalian mengampuni istri-istri dan anak-anak kalian maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni kalian. Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan janji-janji yang lain dan Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikan janji akhirat, yaitu ketika seorang suami memaafkan istri-istri dan anak-anaknya, menasihati mereka, tidak mencela mereka, dan tidak membongkar aib mereka maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya, dan ini yang paling diharapkan oleh seorang hamba di akhirat, yaitu diampuni dosa-dosanya. Dan itu bisa ia raih dengan mengampuni istri-istri dan anak-anaknya. ____________ Footnote [1] HR. Ahmad no. 22437, dikatakan oleh Syu’aib al-Arnauth hadits ini hasan lighoirih [2] HR. Ibnu Majah no. 3666, dan hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani [3] HR. At-tirmidzi no. 3317 dan ia berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan shahih”, dan hadits ini dihasankan oleh Al-Albani. [4] Lihat Tafsir Al-Qurthubi 18/142 [5] Lihat At-Tahrir- wat-Tanwir 28/285 إِن تُقۡرِضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنًا يُضَٰعِفۡهُ لَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ۚ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ إِن تُقۡرِضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنًا يُضَٰعِفۡهُ لَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ۚ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ تُقۡرِضُواْ kamu memberi pinjaman يُضَٰعِفۡهُ Dia melipat gandakannya وَيَغۡفِرۡ dan Dia mengampuni تُقۡرِضُواْ kamu memberi pinjaman يُضَٰعِفۡهُ Dia melipat gandakannya وَيَغۡفِرۡ dan Dia mengampuni Terjemahan Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia akan melipatgandakan balasan untukmu dan mengampunimu. Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun. Tafsir Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik seumpamanya kalian mengeluarkan sedekah dengan hati yang tulus ikhlas niscaya Allah melipatgandakannya kepada kalian menurut suatu qiraat dibaca yudha``afhu lakum. Dilipatgandakan pembalasannya mulai dari sepuluh kali lipat hingga sampai tujuh ratus kali lipat, dan bahkan lebih dari itu dan mengampuni kalian apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pembalas jasa artinya selalu memberikan balasan amal ketaatan lagi Maha Penyantun dalam siksaan-Nya terhadap perbuatan maksiat. Topik ASBĀB-UN-NUZŪL SŪRAT-UT-TAGHĀBUNبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِDengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha PenyayangImām Tirmidzī telah mengetengahkan sebuah hadits demikian pula Imām Ḥākim yang menilai hadits ini sebagai hadits shaḥīḥ. Keduanya mengetengahkan hadits ini bersumber dari Ibnu Abbās yang telah menceritakan, bahwa ayat ini yaitu firman-Nya“Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.” QS. Taghābun [64] 14.diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari kalangan penduduk Makkah; mereka telah masuk Islam akan tetapi istri-istri dan anak-anak mereka tidak mau diajak berhijrah ke Madīnah bersama mereka. Ketika kaum itu datang kepada Rasūlullāh di Madīnah, mereka menduga bahwa orang-orang telah mengerti dan memahami perihalnya; mereka pasti akan menghukumnya. Lalu Allah menurunkan firman-Nya“dan jika kalian memaafkan dan tidak marah……” QS. Taghābun [64] 14.Imām Ibnu Jarīr telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Athā’ ibnu Yasār yang telah menceritakan, bahwa surat at-Taghābun semuanya diturunkan di Makkah, kecuali ayat-ayat berikut ini, yaitu firman-Nya“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian…...” QS. Taghābun [64] 14.Ayat di atas diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang dialami oleh Auf bin Mālik al-Asyjaī. Ia mempunya istri dan anak, dan bilamana Auf hendak pergi berperang, mereka menangis seraya menahannya supaya jangan berangkat ke medan perang. Keluarga Athā’ mengatakan “Kepada siapakah kamu akan menitipkan kami.” Tangisan dan halangan mereka membuat hati Athā’ lunak dan akhirnya ia tidak jadi berangkat. Lalu turunlah ayat ini. Sedangkan ayat-ayat yang selanjutnya hingga akhir surat semuanya diturunkan di Ibnu Abī Ḥātim telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Saīd ibnu Jubair yang telah menceritakan, bahwa setelah ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya“bertaqwālah kalian kepada Allah sebenar-benar taqwā kepada-Nya.” QS. Āli Imrān [3] 102.maka hal ini dirasakan amat berat pengamalannya oleh kaum Muslimīn. Akhirnya mereka tiada henti-hentinya melakukan shalat, sehingga kaki mereka bengkak-bengkak dan dahi mereka luka karena banyaknya shalat yang mereka kerjakan. Lalu Allah menurunkan ayat ini sebagai keringanan buat kaum Muslimīn, yaitu firman-Nya“Maka bertaqwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian…..” QS. Taghābun [64] 16.Diposting pada 21 November Dari 355 191Kali.

tafsir surat at taghabun